Tampilkan postingan dengan label MOUNTAINERING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOUNTAINERING. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2009

Pendakian Ke Gunung Sindoro

Gunung Sindoro masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Merupakan rangkaian bagi pendaki yang senang melakukan pendakian "Triple S" untuk gunung di daerah Jawa Tengah, yakni Slamet Sindoro Sumbing.

Gunung dengan ketinggian kurang lebih 3150 mdpl ini gampang di jangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya sangat strategis, yakni di jalur Wonosobo - Temanggung. Dulu sewaktu KOMA Pekalongan melakukan pendakian ke gunung Sindoro ini mengambil trayek dari terminal Induk Kota Pekalongan dengan bus jurusan Sukorejo. Dari Sukorejo di sambung ke Parakan kemudian naik bus lagi jurusan Wonosobo.

Bisa juga dari Semarang dengan bus jurusan Bawen-Temanggung-Wonosobo-Purwokerto. Atau kalau dari Magelang langsung ke jurusan Wonosobo juga. Sedangkan kalau dari Purwokerto bisa menggunakan kendaraan bus Jurusan Purwokerto - wonosobo - Temanggung - Bawen.

Dari semua jurusan manapun kita berangkat, setelah dari Wonosobo ke Temanggung atau sebaliknya dari Temanggung ke Wonosobo kita turun di Kledung. Di jalur ini tedapat dua pos pendakian yakni Garung ( pos ke Sumbing), dan Kledung (pos ke Sindoro). Jarak antara kedua pos pendakian ini sekitar 500 meter dengan di tandai adanya gapura perbatasan Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Wonosobo.

Setelah turun di Gang Kledung, KOMA Pekalongan langsung masuk ke pos pendakian yang jaraknya sekitar 500 meter dari jalan raya. Semua persiapan dan perbekalan logistik mesti kita siapkan penuh di pos pendakian, terutama air. Karena sepanjang jalur pendakian gunung Sindoro tak ada sumber mata air yang bisa di temui. Dan usahakan pula untuk mendaki gunung Sindoro hanya pada waktu malam hari saja, sebab kalau siang hari sengatan matahari akan langsung menyerang punggung kita.

Setelah semua perlengkapan beres, KOMA Pekalongan mengawali perjalanan mendaki dari pos Kledung menuju Pows Sibajing yang jalannya sangat landai. Bahkan secara bergurau jalur ini bisa di lewati pakai becak. Karenanya untuk yang malas atau nggak mau capek bisa memanfaatkan jasa ojek yang banyak ngetem di sekitar pos Kledung. Jalanan menuju pos Sibajing ini memang membosankan bagi para pendaki. Namun justru di sinilah ujian kesabaran bagi pendaki. Anggap saja sebagai pemanasan untuk mengendorkan otot-otot sebelum mulai pendakian yang sebenarnya.

Di tengah perjalanan dari pos Kledung ke Pos Sibajing, kita akan menjumpai Watu Gajah yang merupakan gerbang pendakian yang sebenarnya. Karena setelah melewati Watu Gajah, medan mulai agak menanjak sedikit demi sedikit walaupun masih di daerah ladang pertanian. Jalanpun mulai berliku-liku dan naik turun sampai di Pos berikutnya yaitu pos Cawang (Gowok).

Selepas dari Pos Gowok inilah baru akan terasa medan sesungguhnya dari pendakian gunung Sindoro. Medan-medan terjal menjadi santapan empuk bagi pendaki. Hutan raya Sindoro yang di dominasi dengan pohon lamtoro sedikit membantu untuk berpegangan manakala menemui tanjakan-tanjakan terjal. Perlu juga di jadikan perhatian, perjalanan dari pos Gowok ke atas akan menemui banyak puncak-puncak bayangan. Terlebih kalau pendakian di jalur ini kita lalaui pada siang hari atau hari sudah terang, semua puncak bayangan itu bisa mengecoh semangat kita.

Team KOMA Pekalongan yang waktu itu terdiri dari tujuh personil, berkali-kali bersorak kegirangan. Dalam pikiran kami pendakian Sindoro sudah sukses mencapai puncak. Tidak tahunya ternyata hanya puncak bayangan. Bahkan berkali- kali kejadian ini kami alami sampai-sampai nyaris membuat kami putusasa. Ternyata yang kami kira sebagai puncak Sindoro adalah Pos Seroto. Perjalanan dari pos Gowok ke Pos Seroto bisa di tempuh sekitar 2 jam.

Di daerah sekitar pos Seroto banyak bebatuan di sela-sela hutan lamtoro. Medan Pos Seroto ini terbilang cukup merepotkan juga, karena waktu itu kami mendaki bertepatan dengan musim penghujan. Jalanan banyak yang rusak dan menjadi licin.

Di ambang keputusasaan karena sering tertipu oleh puncak-puncak bayangan, sampailah kami di gerbang adelweis yang sangat mempesona pandangan kami. Padang adelweis Gunung Sindoro memang beda denga gunung - gunung lain.Padang adelweis di Gunung Sindoro ibarat Helm. Lebat dan nyaris tak ada tanaman lain yang menyelinap di sekitar padang adelweis ini.

Jalur pendakian di padang adelweis berupa bebatuan vulkanik yang berwarna kemerahan. Kondisi jalanan lumayan terjal dengan tumpukan bebatuan yang labil dan mudah longsor. Kurang lebih setengah jam kemudian barulah puncak Gunung Sindoro yang sebenarnya kami capai.

Puncak Sindoro 3150 mdpl menyajikan panorama alam yang sangat menawan. D dalam kawah Sindoro yang sudah tidak aktif lagi terdapat dua telaga yang airnya berwarna jernih. Sebelah kanan airnya kelihatan kehijauan dan yang sebelah kiri putih jernih. Telaga ini terbentuk dari kawah yang sudah mati. Dari air telaga ini biasanya para pendaki mengisi kantong-kantong air untuk perbekalan turun.

Namun telaga ini hanya bisa kita temui kalau musim penghujan saja. Karena sewaktu saya melakukan pendakian berikutnya di musim kemarau, genangan air ini sama sekali tidak ada.

Pesona lain dari puncak Sindoro adalah Alun-alun Segoro Banjaran dan Alun-alun SegoroWedi. Kedua alun-alun ini bisa di lewati kalau kita mau berkeliling di puncak Sindoro. Pemandangan lainnya kalau kita mau keliling di puncak, dari puncak bagian sisi barat akan kita lihat puncak gunung Slamet yang menyembul dari sela-sela awan. Menengok kebawah akan kita lihat indahnya pegunungan Dieng dengan telaga Warna dan telaga Pengilon yang airnya berkilauan kena terpa sinar matahari.

Jalur Alternatif Ke Puncak Sindoro

Selain jalur Kledung yang sangat populer dan mudah di jangkau, puncak Gunung Sindoro juga bisa di capai dari jalur lain, yakni Jalur Sigedang Kecamatan Kejajar Wonosobo.

Jalur Sigedang jarang di gunakan oleh para pendaki di karenakan jalur ini medannya terlalu terjal dengan sajian jurang - jurang yang sangat curam. Untuk mencapai ke Pos Sigedang bisa menggunakan bus Wonosobo - Rejosari kurang lebih 20 km. Setelah di Rejosari perjalanan di lanjutkan dengan angkudes Rejosari - Sigedang.

Dari Pos Sigedang pendakian di awali dengan melintasi perkebunan teh Tambi. Di sekitar perkebunan teh ini terdapat tiga shelter yang bisa di manfaatkan untuk istirahat. Selepas dari perkebunan teh Tambi, perjalanan selanjutnya adalah memasuki hutan raya Sindoro dengan medan yang sangat terjal.

Sekitar dua jam di hutan raya Sindoro begitu keluar kita akan di hadapkan padapadan ilalang yang sangat luas dengan jalanan berkerikil dan medan berliku-liku. Sukses melintasi padang rumput ilalang, pucak Sindoro langsung menyambut kedatangan kita.

Akan tetapi untuk pendaki pemula jalur Sigedang ini sangat tidak di anjurkan.

Team KOMA Pekalongan Nashori,Copet,Rudy,Mahmudi,Usni,Bang Mandor dan Guntoro.

Minggu, 15 Februari 2009

Mendaki Gunung Merapi 2968 Mdpl

Gunung Merapi sebenarnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran gunung-gunung yang ada di propinsi Jawa Tengah. Akan tetapi jangan dilihat hanya dari ketinggiannya saja. Karena biarpun termasuk gunung di bawah kepala 3,tapi kalau sedang "marah",bisa merepotkan semua orang.

Gunung Merapi secara geografis masuk dalam 4 wilayah kabupaten. Yakni Kabupaten Boyolali, Magelang, Klaten (Jawa Tengah) dan Kabupaten Sleman (DIY).

Bagi para pendaki, jalur untuk mencapai puncak Merapi bisa melalui beberapa pos pendakian. Pos pendakian dari sisi barat adalah Pos Babadan. Namun jalur ini terlalu sulit untuk dilewati, karena medannya terlalu terjal dan sering berubah-ubah. Jalur Babadan merupakan lintasan "wedus gembel" manakala Merapi sedang mengamuk.

Berikutnya jalur selatan atau jalur Mbah Marijan. Pos pendakian dusun Kinahrejo Desa Umbul Harjo ini menjadi sangat terkenal karena basecamp pendaki menempati ke diaman juru kunci Gunung Merapi dari Kraton Yogyakarta, Mbah Marijan.

Menurut kepercayaan, sisi depan gunung Merapi adalah kalau di lihat dari dusun Kinahrejo ini. Namun jalur pendakian dari pos ini tak jauh beda dengan jalur Babadan. Sulit dan sangat tidak di anjurkan untuk pendaki pemula. Rata-rata pendakian lewat Kinahrejo mentok di pos Rudal. Karena jalan ke puncak Merapi terhalang oleh gugusan kubah lava bekas letusan yang terjadi berkali-kali.

Pos pendakian yang paling bersahabat bagi para pendaki Gunung Merapi adalah pos sisi utara, yakni Selo. Pos pendakian ini berada di Dusun Plalangan Desa Lencoh Kecamatan Selo. Rumah yang di jadikan basecamp dan tempat pendaftaran bagi pendaki adalah rumah keluarga Pak Min (panggilan akrabnya).

Dari basecamp ini pendaki bisa mempersiapkan semua perlengkapan untuk bekal naik ke puncak Merapi. Dari Pos Plalangan menuju puncak Merapi bisa di tempuh dalam waktu sekitar 5 jam (perjalanan santai). Karenanya bagi yang ingin menyaksikan sunrise, sebaiknya mengawali pendakian sekitar jam 23.00 malam dengan target istirahat di lembah Pasar Bubrah. Dari lembah pasar Bubrah menuju ke puncak Merapi bisa di tempuh kurang lebih selama 1 jam.

Transportasi Darat Menuju Ke Gunung Merapi


Dari Jakarta naik bus jurusan Boyolali. kemudian Boyolali ke Cepogo dengan minibus. Nyambung lagi dengan minibus jurusan Cepogo - pasar Selo. Kalau sedang beruntung kadang-kadang ada angkutan yang dari Boyolali langsung ke Selo. Perlu di catat di sini bahwa trayek angkutan yang ke arah Selo cuma sampai jam 17.00 sore. Lewat dari jam ini bisa naik pickup yang mengangkut sayuran.

Dari arah selatan : Jogja ke Muntilan. Dari Muntilan di lanjutkan dengan angkot jurusan Pasar Talun. Setelah sampai di Talun, di sambung dengan angkutan Talun - Tlatar - Kerep pass - Jrakah. Terakhir dari Jrakah ke Selo.

Alternatif lain adalah dengan bus Semarang - Jogja, turun di perempatan Blabak. Lalu di lanjutkan dengan angkutan Blabak - Tlatar.

Setelah sampai di pertigaan pasar Selo, kita bisa jalan kaki sekitar 1 kilometer ke pos pendakian di Dusun Plalangan Lencoh.

Sedangkan kalau mau mendaki dari pos pendakian Mbah Marijan, dari terminal Jogja kita naik angkutan yang menuju ke obyek wisata Kaliurang Kabupaten Sleman. Dari Kaliurang di lanjutkan dengan hiking ke Dusun Kinahrejo Desa Umbul Harjo Kecamatan Cangkringan.

Gunung Semeru Jawa Timur : KOMA Pekalongan

Pendakianku ke Semeru Jawa Timur pada tahun 2001 tidak lagi membawa panji KOMA Pekalongan. Pendakian ini adalah pendakian pelarianku setelah aku "terbuang dan terusir" dari kampung kelahiranku di Kelurahan Banyurip Ageng Pekalongan Selatan. Aku terlempar dari Banyurip Ageng dengan sebab yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya yang belum terjawabkan. Bahkan oleh diriku sendiri.

Begitu badai besar menerjang semua sendi kehidupanku di Banyurip Ageng, aku langsung lari ke gunung. Sebagaimana kecintaanku pada pendakian, maka setiap datang suatu permasalahan aku pasti ke gunung untuk mencari pencerahan. Di gununglah aku bisa tenang berinstrokpeksi dan banyak menggembleng batinku.

Aku mengawali perjalanan dari Gunung Slamet di Purbalingga, kemudian melanjutkan ke gGunung Sindoro Temanggung dan istirahat setengah bulan di Garung Butuh Kalikajar sembari mempelajari masalah tembakau. Di kaki Gunung Sumbing Wonosobo ini pula aku belajar tekhnik SAR di pegunungan. Aku belajar banyak dengan Team SAR Pajeero dan Stickpala Wonosobo.

Setelah kurasa cukup di Sumbing dan kebetulan ada teman dari Sidoarjo yang mengajakku ke Semeru, akupun tak banyak berpikir langsung mengiyakan untuk melakukan pendakian ke Gunung tertinggi sepulau Jawa, Semeru yang mempunyai puncak sensasional Mahameru.

Sesampainya di Sidoarjo aku langsung naik angkutan yang menuju ke Kota "Apel" Malang. Di Kota Malang aku bertemu dengan teman sesama pendaki yang sebelumnya sudah kenalan waktu aku mendaki gunung Slamet. Lewat temanku yang namanya Tembol inilah aku di antar mendaki Gunung Semeru.

Dari Kota Malang kami meluncur ke Kecamatan Tumpang. Dari Tumpang kami naik angkutan Jeep menuju ke desa Ranu Pani yang merupakan desa terakhir untuk menuju gunung Semeru.

Pendaftaran dan permintaan kami untuk mendaki mendaki Semerru berjalan lancar di desa Ranupani ini. Dan setelah semua beres kamipun mulai pendakian ke Semeru pada malam hari. Dari Malang awalnya kami cuma bertiga, namun dapat tambahan personil dari anak-anak Tuban 3 orang. Sehingga jumlah team kami saat itu adaa 6 orang.

Setelah bejalan kurang lebih 13 kilometer dari pos pendaftaran Ranupani, kami berenam sampai di pos Ranu Kumbolo (2400 mdpl). Pos ini terkenal dengan telaganya yang airnya melimpah dan jernih. Bahkan di telaga Ranu Kumbolo ini kami sempat mencari ikan untuk santap malam. Ranu Kumbolo menjadi tempat peristirahatan pertama. Kami buka tenda di sini untuk menyambut matahari terbit esok pagi.

Puas menyaksikan matahari terbit dari celah-celah perbukitan di Ranu Kumbolo, kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan sengaja di bikin santai karena di antara kami berenam memang tak ada acara lain yang mesti di kerjakan di tempat tinggal masing-masing.

Tanpa terasa perjalanan kami sudah sampai di ketinggian 2700 mdpl, yakni di pos Kali Mati. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di bawah Arcopodo pas hari menjelang sore. Akhirnya kita memutuskan untuk istirahat dan buka tenda lagi. Karena perjalan esok adalah treking terakhir, kamipun berusaha untuk istirahat semaksimal mungkin di Arcopodo ini.

Untung walaupun kami nyenyak tertidur, satupun dari kami tidak ada yang terlambat bagun. Dengan menahan rasa dingin yang seperti menusuk ketulang sum-sum, kami berenam mulai bergerak lagi untuk menggapai puncak Mahameru. Tebalnya kabut kala itu tak menyurutkan semangat kami. Dan tidak cuma rombongan kami yang menerobos tebalnya kabut di Arcopodo, ada sekitar 5 team lainnya yang sama-sama melakukan hal ini.

Ketika kami mulai menapaki jalanan pasir yang sangat merepotkan langkah kaki kami, tebalnya kabut sudah mulai berkurang. Berganti dngan sinar mentari pagi yang cukup menyegarkan badan dan fikiran.

Alhamdulillah, setelah bersusah payah melintasi medan pasir yang cukup terjal, kami berenam dan team-team lainnya sampailah di puncak tertinggi di pulau Jawa. Puncak Mahameru terhampar indah didepan penglihatan kami semua.

Di puncak Mahameru ini terdapat kawah yang setiap seperempat jam-nya mengeluarkan asap dan letusan yang di iringi dengan semburan batuan vulkanis. Inilah kawa " Jonggring Saloko " di ketinggian 3676 mdpl.

Untuk mengenang perjalananku dengan KOMA Pekalongan, aku tuliskan nama-nama personil KOMA yang pernah ikut mendaki bersamaku di gunung-gunung di pulau Jawa.

GUNUNG LAWU : Jejak Perjalanan KOMA Pekalongan

Team KOMA Pekalongan melakukan pendakian ke Gunung Lawu Karanganyar - Magetan pada tahun 2001. Awalnya kOMA Pekalongan berniat mendaki ke Slamet. Tapi karena waktu itu Slamet ditutup karena adanya tragedi tewasnya beberapa mahasiswa dari Yogyakarta, akhirnya KOMA Pekalongan lari ke Lawu.

Koma Pekalongan belum pernah melakukan pendakian dengan jumlah lebih dari lima orang. Biasanya paling mentok empat orang.
Baru waktu ke Lawu inilah personil KOMA mencapai tujuh orang.

Karena waktu itu bertepatan dengan musim penghujan dan badai, KOMA Pekalongan di bekali surat jalan dari pihak kantor Kelurahan Banyurip Ageng untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Perjalanan kami awali dari terminal induk Kota Pekalongan dengan naik bus jurusan Terminal Tirtonadi Surakarta. Dari Pekalongan sekitar jam 11.00 siang ,sampai di Tirtonadi Surakarta hari sudah menjelang maghrib.

Kalau perjalanan dari Tirtonadi langsung di sambung ke Tawangmangu, bisa-bisa kami akan kedinginan semalaman di Tawangmangu Karanganyar. Karena angkutan dari Tawangmangu yang ke Cemoro Kandang ( pos pendakian Gunung Lawu dari Jawa Tengah) trayeknya cuma sampai jam 18.00 sore saja. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dahulu di sebuah Hotel di Kecamatan Palur (Kecamatan yang dekat dengan sungai Bengawan Solo).

Pagi harinya Team KOMA langsung melanjutkan perjalanan dari Palur ke Terminal Tawangmangu Karanganyar. Tawangmangu sangat terkenal dengan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu. Apalagi di tambah dengan di bangunnya komplek pemakaman keluarga Presiden Soeharto, Astana Giri Bangun yang lokasinya masih satu arah dengan Grojokan Sewu.

Sesampainya di terminal pasar Tawangmangu Koma Pekalongan langsung pindah ke angkutan jurusan Tawangmangu-Cemoro Kandang- Sarangan. Angkutan melewati jalanan yang meliuk-liuk di lereng yang sangat tinggi. Karenanya jalur ini terkenal sebagai jalan raya paling tinggi sepulau Jawa.

Sekitar dua jam di kocok-kocok di angkutan, sampailah KOMA di Pos Pendakian Cemoro Kandang yang posisinya ada di sebelah kiri jalan. Di samping kanan jalan depan pos pendakian berjajar warung-warung makanan.

Pendaftaran dan permintaan KOMA untuk mendaki Lawu ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Karena memang cuaca pada waktu itu sangat tidak mendukung untuk melakukan kegiatan pendakian. Tapi setelah lama bernegosiasi, akhirnya KOMA di izinkan juga untuk mendaki Gunung Lawu.

Medan pembukaan dari Cemoro Kandang landai-landai saja sampai di pos Taman Sari Ngisor. Dari Jalur Cemoro Kandang ini para pendaki Gunung Lawu akan menjumpai beberapa pos seperti Taman Sari Nduwur yang dekat dengan retakan kawah.

Terus di jumpai pula pos Jurang Pengarip-Arip yang jalannya sempit,sisi kanan tebing dan sebelah kiri jurang menganga.

Kemudian akan kita temui pula dataran luas yakni Pos Cokro Suryo, disini banyak terdapat batu-batu nisan untuk mengenang para pendaki yang meninggal (tewas) sewaktu melakukan pendakian di Gunung Lawu.

Di gunung Lawu tedapat tiga puncak yang sangat terkenal. Yakni puncak 1 (Hargo Dumilah) dengan ketinggian 3265 mdpl. Puncak satunya lagi yang tak kalah populer,karena banyak menjadi tujuan para peziarah adalah puncak 2 (Hargo Dalem).
Dan terakhir puncak 3 (Hargo Dumiling) yang di percaya sebagai tempat pamoksannya Ki Sabdo Palon,salah satu pengikut Prabu Brawijaya Pamungkas.

Menurut kepercayaan yang banyak berkembang, makam yang ada di puncak Hargo Dalem adalah makam Prabu Brawijaya Pamungkas. Sementara ada juga yang menganggap sebagai makamnya Sunan Lawu.



Pejalanan turun KOMA Pekalongan memilih jalur Cemoro Sewu. Jalur Cemoro Sewu relatif lebih mudah dari pada jalur Cemoro Kandang.

Perjalanan turun lewat jalur Cemoro Sewu ini akan melintasi beberapoa pos. Pos pos yang akan kita jumpai antara lain Sendang Drajat, Sumur Jolotundo, Kawah Gunung Lawu, sampai akhirnya dipos 3 dan di lanjutkan menyusuri jalanan yang berundak-undak dengan bebatuan yang tersusun rapi. Disini kita juga akan melewati jalanan yang kiri kanannya rindang dengan pepohonan Cemara.

Setelah sampai di pos pendakian Cemoro Sewu, team KOMA Pekalongan melapor dan mengucapkan terima kasih serta pamitan kepada para petugas jaga.

Karena sudah terlalu lelah, kami langsung naik angkutan Sarangan - Tawangmangu. Dari Tawangmangu di sambung ke Teminal Tirtonadi. Dari Terminal induk Surakarta ini Team KOMA Pekalongan langsung pulang ke kampung halaman.


Salam untuk Copet, Rudi Wowok, Mahmudi Temon, Amat Cebong, dan Bang Mandor di Banyurip Ageng Pekalongan Selatan yang pernah bersama merasakan dinginnya kabut Lawu.







Jumat, 30 Januari 2009

Pesta Bunga Di Gunung Slamet


Pendakian pertama KOMA ke gunung Slamet merupakan pendakian 'taruhan'. Semangat ke Slamet di picu oleh cibiran sinis seorang ustadz yang merasa sudah 'weruh sedurunge winarah'.

Kala itu KOMA merasa tertantang dengan omongan si 'orang pintar'.

"Tak akan pernah ada manusia yang bisa menginjak puncak gunung Slamet. Kalaupun bisa sampai ke puncak,orang itu di jamin tidak akan turun dengan selamat."

Memang waktu itu di Slamet pas sedang ada kejadian tewasnya beberapa pendaki dari Jogja.

Omongan 'si pintar' dan tragedi Slamet sedikitpun tidak menyurutkan niat dan semangat KOMA. Empat personil KOMA akhirnya berangkat juga ke Slamet. Rudi,Ubaid,Copet dan aku berangkat dengan perlengkapan seadanya dan sangat sederhana.

Pendakian kami mulai dari pos dukuh Bambangan.
Belum apa-apa,kami sudah dihadapkan dengan kejadian yang menyeramkan.
Bertepatan dengan datangnya waktu maghrib di base camp (rumah pak kadus),ada pendaki cewek dari Jepara yang sedang kesurupan.

Cewek Jepara belum sembuh,datang pendaki asal Sulawesi yang baru turun dan melaporkan kalau temannya ada yang kesurupan di tengah hutan gunung Slamet.
Serem dan ngeri juga,ya... tapi semua kejadian itu tak mengurangi semangat KOMA.

Team KOMA berjalan santai saling beriringan. Pemandangan di mana-mana cuma kabut tebal saja yang terlihat. Kami mendaki malam minggu pas bulan purnama waktu itu. Kami bejalan sembari ngobrol ngalor ngidul dan bersenda gurau
Tak terasa sampailah Koma di pos payung. Sebentar lagi akan memasuki kawasan hutan tropis yang sangat lebat.

Cuaca tambah tak karuan. Dingin menusuk, kabut menyergap,angin menerjang...
Bayangan pepohonan di bibir hutan tropis laksana pasukan jin sedang berbaris siap menjemput kedatangan kami. Mendadak suasana berubah menjadi hening. Sepi.
Cuma dengus nafas kami yang terengah-engah yang terdengar lirih.

Tak satupun kami temui pendaki-pendaki lainnya. Mungkin mereka sudah mimpi di tenda masing-masing. Kami memang pendaki urutan terakhir malam itu.

Tiba-tiba ada angin kencang memotong perjalanan kami. Kami berempat berhenti sejenak karena kaget.

Kekagetan anak-anak Koma berubah jadi rasa ngeri.. Bibir kami serasa terkunci sesaat. Setelah angin kencang lewat,menyeruaklah aroma kembang melati, kadang berganti wangi kenanga silih berganti.

Padahal diantara kami tak satupun bawa kembang maupun parfum pewangi. Merinding semua bulu kuduk,tak ada yang berani bicara. Dalam ketidak tahuan dan rasa ketakutan,secara reflek kami serentak berteriak Allahu Akbar...!!

Dan kamipun langsung lari pontang panting masuk ke pos hutan. Jantung serasa mau meletus,dag dig dug. Senda gurau dan kekonyolan kami sirna tak tersisa. Yang terbayang hanya kengerian dan ketakutan yang teramat sangat.

Masih di selimuti perasaan tak karuan, akhirnya kami putuskan untuk buka tenda di Pos Samarantau. Padahal ada yang bilang,kalau nama Samarantau itu sama dengan Sarang Rumah Hantu.

Tapi kami sudah tak peduli lagi. Rasa lelah dan pasrah dengan kejadian dibibir hutan tadi menyebabkan kami tak lagi memikirkan hal ini. Yang ada cuma pikiran untuk tidur,tidur dan mimpi indah.

Alhamdulillah,tidur kami sukses tanpa tambahan mimpi buruk apapun. Dan setelah menghangatkan badan dengan minuman Jahe,kamipun melanjutkan pendakian menuju puncak Slamet.

Jam 03.00 dini hari KOMA kembali bergerak. Kali ini kami mengambil sistem treking cepat. Karena posisi kami masih jauh di tengah hutan. Sedangkan kami pingin menyaksikan terbitnya sang surya. Personil Koma berjalan nyaris berlarian. Entah dari mana kami mendapat suplemen tenaga baru ini.

Pas 2 jam kami berlarian sampailah kami di Palawangan. Dari sini kami mengabadikan terbitnya matahari.

Treking terakhirpun kami lalui dengan sukses dan selamat sampai puncak Slamet. Sujud syukur KOMA lakukan di puncak 3428 mdpl.

Senin, 26 Januari 2009

KOMA Di Ciremai

Linggar Jati
Napak Tilas PerjalananWalisongo


Banyak yang mengklaim kalau jalur pendakian gunung Ciremai via pos Linggar Jati adalah jalur Walisongo.
Secara singkatnya,konon Walisongo melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai dan di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati. Pendakian di mulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Ciebunar adalah tempat pertama rombongan Walisongo berkemah.

Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jaluir lain seperti Palutungan maupun Majalengka. Sampai - sampai kakeknya Sunan Gunung Jati kelelahan (mungkin karena pengaruh usia) pas di pertengahan gunung.

Kakeknya Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya,dan memilih beristirahat,dan mempersilahkan rombongan Walisongo untuk meneruskan pendakian dengan di temani oleh empat orang pengawalnya sang kakek.

Kakeknya Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.

Kakeknya Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun,Sang Kakek tidak mau ikut turun di karenakan malu.
Karenanya ada yang menyebutnya sebagai Satria Kawirangan.

Di atasnya sedikit dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana. Kalau di perhatikan di pos Sangga Buana ini,pohon-pohonnya ada yang unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua.

Konon, para pengawalnya Sang Kakek yang mestinya menemani Walisango ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian. Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek,mereka membungkukkan badannya kebawah ke arah sang Kakek beristirahat.
Para pengawal ini atas kuasa Allah berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk kebawah.

Sampailah rombongan Walisongo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Walisongo pun menunaikan sholat jamaah asar di bawah puncak satu.
Usai sholat asar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.

Namun ketika akan mulai memasak,ternyata semua persediaan laukpauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa.
Seadanya yang penting ada yang di makan,walaupun cuma nasi putih campur garam tetap enak dan bisa untuk menambah tenaga baru.

Karena hal inilah puncak II Ciremai di namakan sebagai Puncak Pengasinan. Karenan cuma makan nasi sama garam yang asin rasanya.

Perjalanan Walisongopun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakeknya Sunan Gunung Jati,Walisaongo berdoa minta petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan untuk orang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini.

DenganIzin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Walisongo berdiri amblas kedalam sampai kedalamannya sejajar dengan tempat Kakeknya Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.

Karenanya kawah Ciremai memang exotis namun menyeramkan jika di banding dengan dengan kawah-kawah gunung lainnya.

Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui semua kebenaran cerita ini.

Kisah ini pernah diceritakan oleh Mbah Saman,pemilik warung makan dan penginapan di jalur pendakian Linggar Jati. Tepatnya kurang lebih 100 meter setelah Pos pendaftaran.

Satu pesan dari Mbah Saman yang selalu kami ( KOMA PEKALONGAN ) ingat-ingat.
Kalau mau mendaki gunung dengan selamat, jangan melakukan pendakian dari belakang gunung.
Lakukanlah pendakian dari depan sebagai mana sopan santun kita terhadap orang tua.
Bagian depan gunung ialah apabila dilihat gunung itu berbentuk kerucut atau segi tiga.

Rabu, 21 Januari 2009

Embun Sumbing


Di gunung inilah banyak tertoreh sejarah dan kenangan manis KOMA Pekalongan. Persaudaraan KOMA dengan personil SAR PAJEERO dan STICKPALA sebagai penjaga Pos pendakian dukuh Kalikajar Garung.

Tak akan pernah kami lupakan kehangatan sambutan dari Pajeero dan Stickpala manakala kami dari KOMA Pekalongan datang ke sumbing.

Tak ada anggapan kalau kami adalah tamu. Seperti menyambut saudara sendiri yang telah pergi lama dan baru kembali.

Terima kasih.
Dari kedua Team SAR ini lah kami KOMA banyak belajar tentang tekhnik menolong orang lain di gunung.

Senin, 19 Januari 2009

Misteri Di Gunung Sumbing


Sekitar tahun 2000-an,aku bersama team KOMA moutainering Pekalongan melakukan pendakian ke gunung Sumbing Wonosobo Jawa Tengah. Kami melakukan pendakian bertepatan dengan musim penghujan.

Pendakian di mulai dari dukuh Kalikajar Garung dan mengambil rute jalur baru. Karena memang dari pos ini terdapat dua jalur pendakian yakni jalur lama yang agak landai medannya,dan jalur baru yang terjal dan curam jalannya. Kami berempat di tambah temanku dari anggota PAJEERO ( SAR-nya Sumbing) mulai mendaki setelah sholat isya.

Sebenarnya kami tak mendapat izin dari team SAR PAJEERO maupun STICPALA,karena cuaca buruk yakni hujan dan turun kabut. Tapi karena kami tak mau buang-buang waktu dan biaya,kami abaikan saja himbauan dari team SAR tersebut.
Setelah bernegosiasi dan kami diizinkan naik tapi dengan syarat harus ditemani warga setempat.

Kebetulan memang KOMA sebelumnya sudah kenal dengan para personil PAJEERO sewaktu mendaki gunung Ciremai Cirebon. Kami memilih ditemani personil Pajeero. Dengan iringan doa restu juru kunci dan temanteman semua,kami berlima akhirnya bergerak menembus tebal dan gelapnya kabut.

Awalnya kami berlima enjoy-enjoy saja sewaktu melintasi ladang tembakau petani di bawah pos pasar setan,kami selalu bersama. Karena pengaruh suhu digunung yang sangat dingin,aku pamit untuk kencing dahulu,dan teman-teman aku persilahkan jalan duluan,nanti aku nyusul di belakang.

Dengan sedikit terburu-buru aku lari kesemak-semak untuk menyelesaikan hajat. Begitu selesai kencing,aku lihat empat temanku masih menungguku,tadinya aku kira mereka sudah jalan duluan. Setia juga mereka,begitu pikirku. Akhirnya aku gabung lagi dengan teman-temanku untuk melanjutkan pendakian.

Sembari ngos-ngosan kami terus ngobrol ngalor ngidul,bersenda gurau sambil sekali-kali berhenti untuk minum. Hingga tak terasa perjalananku sudah sampai di padang rumput yang datar, pas posisi di bawah pos pasar setan. Teman-temanku minta waktu untuk break sejenak sekedar untuk merokok dan makan cemilan. Akhirnya kita bongkar ransel logistik,kitapun makan snack dan minum minuman suplemen. Akupun menyulut rokok kretek sekedar untuk penghangat badan.

Belum habis rokokku sebatang,aku mendengar suara teriakan orang-orang memanggil-manggil namaku. Semakin lama semakin keras dan jelas suara teriakan-teriakan itu. Aku kaget campur heran,karena aku mengenali suara-suara yang memangil dan menyebut namaku.
Suara temanku PAJEERO dan team KOMA.

Kalang kabut pikiranku waktu itu. Bukannya mereka sedang bersamaku sekarang..?! Kenapa suara mereka kedengaran sangat jauh...? Keherananku jadi lebih tak karu-karuan ketika aku menengok kebelakang ke tempat empat temanku istirahat...
Ya Allah...! KOSONG..!

Tak ada siapapun kecuali aku berdiri sendirian. Spontanberdiri semua bulu kudukku,hilang pikiran sehatku,rontok semua keberanianku.. Dalam balutan ketakutan..dan rasa masih tak percaya dengan yang kuhadapi,pelan-pelan aku tinggalkan tempat sialan ini. Aku naik menyusul suara teman-temanku yang memanggilku dari atas.

Begitu sudah agak jauh dari tempat kejadian,aku ambil ajian langkah seribu,lari tunggang langgang. Tak perduli gelap,banyak akar maupun batu dan jurang yang menganga di sepanjang jalan. Aku terus berlari jatuh bangun mendekati suara teriakan teman-temanku yang kedengarannya sudah ada di atasku.

Dengan tergopoh-gopoh dan mandi keringat -padahal suhu sangat dingin- aku temukan teman-temanku yang sudah menunggu. Kecemasan sangat jelas terlihat di raut wajah teman-temanku. Mereka mengira aku tersesat karena tak tahu jalan. Dan aku mengiyakan saja. Aku tidak mau mereka ikut-ikutan takut,apalagi sampai pendakian gagal. Dan malam itu kami buka tenda dan bermalam di pos Pasar setan (PESTAN).

Alhamdulillah menjelang matahari terbit kami sampai di puncak 3337 mdpl.

Memang sampai sekarang kejadian ini tak pernah aku ceritakan pada siapapun. Baru sekarang aku tulis cerita ini,karena sejak dari tahun 2007 aku sudah tidak aktif lagi dikegiatan pendakian.
Salam untuk Team KOMA Pekalongan dan semua personil PAJEERO maupun STICKPALA Wonosobo,terutama untuk Nasir Pajeero.