Tampilkan postingan dengan label ZIARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ZIARAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2009

ISTUAN : Makam Pendiri Desa Banyurip Ageng

Dulu, waktu saya masih kecil, para orang tua di Desa (waktu itu belum kelurahan) Banyurip Ageng sering wanti-wanti kepada anak-anak mereka. Jangan suka keluyuran di sekitar "Kuburan Istuan", nanti kena akar mimang (akar jejadian dari bangsa siluman yang bisa bikin orang tersesat).

Ada lagi yang menasehati jangan lewat Istuan waktu "tengangi" (menjelang dluhur) maupun maghrib, sebab bisa dihadang oleh ular Dumung (ular hitam jelmaan jin).

Saya yang waktu itu masih ingusan, jadi manut manut saja pada nasehat orang-orang tua itu. Memang kalau dilihat secara lahiriah saja, makam Istuan sudah kelihatan angkernya. Lokasi makam waktu di tengah perkebunan yang lebat. Kiri kanan makam dikeliling rimbunnya rumpun bambu. Pohon kelapa dan pohon salam, ditambah dengan kurangnya sinar matahari menjamah komplek makam istuan.

Sampai saya beranjak remaja, belum ada bangunan rumah yang menghadap ke komplek makam. Sampai sekarang jati diri makam istuan ini masih misteri bagi warga Banyurip Ageng dan sekitarnya. Karena memang tidak terdapat peninggalan-peninggalan yang bisa dijadikan sebagai bahan penelusuran sejarah siapa yang bersemayam di Istuan ini.

Bahkan sebutan Istuan sendiri merupakan sebutan turun temurun dari orang-orang tua di Banyurip Ageng. Yang maksudnya adalah me-nuan-kan, memulyakan. Akan tetapi walaupun belum jelas identitas siapa yang bersemayam di Istuan, warga Banyurip Ageng dan sekitarnya meyakini secara turun temurun, kalau makam Istuan adalah makam leluhur yang menyebarkan ajaran Islam di Kelurahan Banyurip Ageng dan sekitarnya.

Sedikit informasi yang saya dapatkan tentang makam Istuan, satu diantara dua makam yang ada di komplek Istuan adalah makam Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrohman. Beliau inilah yang menjadi tujuan bagi para peziarah di makam Istuan.

Versi periwayatan tentang Syaikh Abdul Lathif Istuan yang banyak saya peroleh adalah, dalam perjalanan dakwahnya di Pekalongan, Syaikh Abdul Lathif menemui suatu perkampungan yang gersang. Sampai-sampai untuk kebutuhan bersucipun mesti dengan cara tayamum.

Dengan petunjuk Allah SWT, Syaikh Abdul Lathif dalam perjalanan dakwahnya, menemukan pohon kelapa berlobang yang didalamnya terdapat endapan air. Oleh Syaikh Abdul Lathif air ini dimanfaatkan, terutama untuk bersuci.

Keajaibanpun terjadi, tentunya atas Izin dan Kekuasaan Allah SWT, air ini bukannya habis karena sering dipakai, akan tetapi setiap kali di ambil malah semakin bertambah banyak. Bahkan sampai berlimpah dan mengalir sampai ke sekitar pohon kelapa tadi. Bahkan, menurut versi lain air ini termasuk air yang bakal kekal keberadaannya.

Menurut cerita orang-orang tua, dahulu Raden Kertojoyo ( pembuka Desa Kertijyan) pernah di kejar kejar oleh utusannya Mbah Wali Rogoselo karena suatu masalah.

Raden Kertojoyo sudah hampir menyerah karena kelelahan dan nyaris pingsan. Beliau tergeletak tepat di dekat pohon kelapa yang terdapat air keramatnya ini. Tanpa banyak pikir, Raden Kertojoyo langsung minum air yang mengalir dari pohon kelapa ini. Dan keajaibanpun terjadi, dengan Izin dan Kuasa Allah SWT, Raden Kertojoyo yang tadinya sudah lemah lunglai sontak kembali gagah dan bisa berlari cepat. Bahkan bisa menghilang.

Satu hal lagi informasi yang saya peroleh dari para orang tua, Syaikh Abdul Lathif Istuan termasuk salah satu ulama yang ikut menjadi pendiri Kota Pekalongan.

Kegiatan di Makam Istuan Banyurip Ageng

Komplek makam Istuan yang lokasinya di sebelah selatan Kelurahan Banyurip Ageng Rt. 01 Rw. 05 Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan, sekarang sudah berbeda jauh dengan keadaan sewaktu saya kecil dulu. Dulu tidak banyak warga Banyurip Ageng yang melakukan ziarah ke makam ini. Paling ada beberapa orang yang tekun melakukan perawatan sekaligus ziarah di makam Istuan ini.

Makam Istuan mulai ramai di ziarahi masyarakat Banyurip Ageng dan sekitarnya setelah KH Thohir bin Abdul Fattah Jenggot sering melakukan ziarah bersama jamaah Dalailul Khairot yang di pimpinnya, yaitu sekitar tahun 1995-nan. Bahkan makam Istuan yang dulunya gelap dan kumuh, sekarang sudah berubah dengan bangunan megah dan permanen.

Apalagi setelah Haji Agus Manaf bin Abdurrohman pulang dari menuntut ilmu di Timur Tengah dan membuka pengajian rutin setiap malam rabu ba'da maghrib, komplek pemakaman Istuan ini jadi ramai. Karena setiap malam rabu ini Haji Agus Manaf menggelar pembacaan Rotibbul Haddad dan dzikir istuany di rumahnya yang ada di depan makam.

Jamaah Rotibul Haddad dan Dzikir Istuany pimpinan Haji agus juga menyelenggarakan ziarah rutin tiap malam ahad pahing bersama jamaah Sholawat Kamaliah "Kawula Muda Sadarlah" pimpinan Ustadz Arwani Nasrurohman Fauzan.

Sedangkan Jamaah Yasiin dan Tahlil musholla An-Nur yang dari awal sebelumnya sering melakukan ziarah tiap akhir tahun maupun tiap bulan, sekarang jamaah yasin ini mengambil waktu ziarah rutin setiap malam jum'at pahing.

Makam Istuan jadi lebih semarak lagi dengan kegiatan keagamaan setelah jamaah tahfidz ibu-ibu juga rutin mengadakan ziarah ke makam ini setiap hari selasa wage.

Sumber : Sadeli (almarhum), Haji Agus Manaf dan lain-lain.
Photo : Khusni ws

Selasa, 03 Februari 2009

MAKAM SAPURO PEKALONGAN


Makam keramat Sapuro Kota Pekalongan yang lokasinya dekat dengan jalur pantura ini laksana magnet bagi masyarakat Kota Batik Pekalongan dan sekitarnya.

Komplek pemakaman umum kelurahan Sapuro ini menjadi salah satu tujuan wisata religius di karenakan di komplek pemakaman ini terdapat makam Al Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Athas, seorang tokoh penyebar agama Islam di Kota Pekalongan dan sekitarnya.

Apalagi setiap hari kamis sore sampai hari jum'at,komplek pemakaman ini penuh sesak dengan para peziarah yang datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Lokasi makam Habib Ahmad bin Abdullah binThalib Al Athas ini sangat mudah di jangkau karena tempatnya sangat strategis. Yakni kurang lebih 100 meter dari jalan Jendral Sudirman.
Sekitar 5oo meter dari perempatan Ponolawen ke arah timur, atau sekitar 2 kilometer ke arah barat dari Terminal induk Kota Pekalongan.

Al Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Al Athas.

Al Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Alathas di lahirkan di kota Hajren Hadramaut Yaman pada tahun 1255 hijriyah atau tahun 1836 masehi. Beliau menghabiskan masa remajanya untuk menimba ilmu agama di kota asalnya. Beragam disiplin ilmu agama berhasil beliau raih dengan gemilang.

Setelah Habib Ahmad muda menguasai Al Qur'an dan banyak mendalami ilmu-ilmu agama di daerah asalnya, beliau melanjutkan menuntut ilmu kepada para pakar dan ulama-ulama terkenal yang mukim di Mekkah al Mukaromah dan Madinah Al Munawwaroh.

Sekalipun banyak mendapat tempaan ilmu dari banyak guru di kedua kota suci ini, namun guru yang paling utama dan paling besar pengaruhnya bagi pribadi Habib Ahmad adalah As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

Assayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang pakar ulama yang sangat banyak muridnya di Mekkah al Mukarromah maupun di negara-negara lainnya. Banyak ulama-ulama dari Indonesia yang juga berguru kepada Assayyid Ahmad Zaini Dahlan. Seperti, Hadrotul Fadhil Mbah KH Kholil Bangkalan Madura dan Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari Jombang Jawa Timur. Kedua ulama ini adalah cikal bakal jamiyyah Nahdlotul Ulama.

Setelah selesai dan luluis menempuh pendidikan dan latihan, terutama latihan kerohanian secara mendalam, Habib Ahmad mendapat tugas dari gurunya untuk berdakwah menyebarkan syariat agama Islam di kota Mekkah.

Dikota kelahiran Nabi Saw ini, Habib Ahmad sangat dicintai dan di hormati oleh segala lapisan masyarakat, karena Habib Ahmad berusaha meneladani kehidupan Rosulallah Saw. Habib Ahmad mengajar dan berdakwah di kota Mekkah sekitar tujuh tahun. Setelah itu beliau pulang ke kampung kelahiran beliau,Hadramaut.

Tidak lama mukim di kota kelahirannya, Habib Ahmad merasa terpanggil untuk berdakwah di Asia Tenggara. Dan pilihan beliau jatuh ke Indonesia. Karena memang pada waktu itu sedang banyak-banyaknya imigran dari Hadramaut yang datang ke Indonesia. Di samping untuk berdagang juga untuk mensyiarkan ajaran Islam.

Setibanya Habib Ahmad di Indonesia,beliau memilih tinggal di Pekalongan Jawa Tengah. Karena Habib Ahmad melihat kondisi keagamaan di Pekalongan yang masih sangat minim. Dan saat pertama menginjakkan kakinya di Pekalongan, Habib Ahmad melaksanakan tugas sebagai imam di Masjid Wakaf yang ada di kampung Arab (sekarang Jl. Surabaya).

Dari Masjid Wakaf inilah Habib Ahmad memulai dakwah Islamiyyahnya. Dari pengajian kitab-kitab fiqih, pembacaan daiba'i, barzanji, pembacaan wirid,dzikir dan lain sebagainya.
Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alathas juga dikenal sebagai ulama hafidz ( penghafal al Qur'an)

Habib Ahmad adalah seorang ulama yang selalu tampil dengan rendah hati (tawadhu),senang bergaul dan gemar bersilaturrohim dengan siapa saja. Habib Ahmad paling tidak senang,bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan dirinya.

Kendati demikian, Habib Ahmad tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum dari Allah dan Rosul-Nya yang di remehkan oleh orang lain. Habib Ahmad sangat teguh dan keras memegang syariat Islam,seperti masalah amar ma'ruf nahi mungkar.

Pada zamannya dahulu, Habib Ahmad ibarat Kholifah Umar bin Khothob yang sangat tegas dan keras menentang setiap kemungkaran. Tidak peduli yang berbuat mungkar itu pejabat maupun orang awam.

Satu contoh, para wanita tidak akan berani lalu lalang di depan kediaman Habib Ahmad kalau tidak mengenakan tutup kepala (kerudung). Kalau ketahuan oleh Habib Ahmad pasti langsung kena teguran. Tidak peduli wanita muslim ataupun non muslim.

Menjelang akhir hayatnya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alathas mengalami patah tulang pada pangkal pahanya,akibat jatuh hingga beliau tidak sanggup berjalan.


Sejak saat itu beliau mengalihkan semua kegiatan keagamaannya di kediamannya, termasuk sholat berjamaah dan pengajian.

Penderitaan ini berlanjut sampai beliau di panggil pulang ke Ramatullah. Habib Ahmad Bin A bdullah Bin Thalib Alathas meninggal dunia pada malam ahad 24 rajab 1347 hijriyyah atau tahun 1928 masehi. Habib Ahmad meninggal dunia dalam usia 92 tahun.

Walaupun Habib Ahmad meninggal dunia pada tanggal 24 rajab, akan tetapi acara khaulnya di peringati setiap tanggal 14 sya'ban, bertepatan dengan malam nisyfu sya'ban.


(Dari berbagai sumber)
Photo : Khusni Ws Kertijayan


Jumat, 16 Januari 2009

Gema Kalimat Thoyyibah Di Karangwangkal


K.H. Syaikh Syarif Nurkholis
Karangwangkal Purwokerto Jawa Tengah

Awalnya saya suka menertawakan orang-orang yang berdzikir Laa Ilaaha Illallah dengan suara lantang dan keras sekali sembari menggoyang-goyangkan kepala dan anggota badannya. Seperti orang tidak waras saja,begitu pikirku.
Memang saya tidak pernah menentang atau bahkan sampai menjelek-jelekkan mereka,cuma saya merasa tidak sreg saja dengan polah tingkah mereka.

Namun lama kelamaan timbul juga rasa penasaran di hatiku,siapa mereka dan apa enaknya berdzikir dengan gaya dan model yang aneh begituan. Setiap hari aku selalu memikirkan dan terus berusaha mencari informasi tentang jamaah "gela gelo" -soalnya kalau sedang dzikir kepalanya bergoyang-goyang alias gelagelo- ini.

Kebetulan salah satu dari jamaah TPQ Al Wasilah yang saya kelola sudah ada yang ikut jamaah "gela gelo" ini. Alhasil dari ngobrol-ngobrol dengan temanku itu aku jadi tertarik juga untuk mengenal lebih jauh jamaah dzikir itu.

Setelah skian lama mempertimbangkan dan menunggu,akhirnya bertepatan dengan malam 11 dzul hijjah 1426 hijriyyah, saya ikut berangkat
untuk mengikuti pengajian "welasan" yang rutin di adakan di Pondok Pesantren Assalafiyyah Karangwangkal Purwokerto Utara. Selain untuk mendengarkan mauidhoh khasanah dari sang Kyai pondok ini,saya juga sudah berniat untuk sowan kepada sang Kyai.

Begitu saya sampai di Pondok Pesantren tempat di selenggarakannya acara "welasan",saya tidak bisa berkata apa-apa. Batinku bergetar mendengar gemuruh suara kalimat Thoyyibah yang menyembur keluar dari dalam pondok. Laksana suara gelombang air bah,menderu dan saling bersahutan. Aku seperti di hamtam oleh gelombang tsunami mendengar gema kalimat thoyyibah yang di suarakan oleh jamaah "welasan" ini.

Serasa semua tulang-tulang dibadanku di cabuti satu persatu. Lemas dan lunglai keterjang deru suara dzikir ratusan anggota Jamaah Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah yang di pimpin langsung oleh Kyai Haji Syaikh Syarif Nurkholis atau sering di panggil dengan sebutan
"Mbah Nur".

Ratusan orang tenggelam dalam lautan dzikir kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH,tak perduli dengan gegap gempitanya kota Purwokerto ataupun beban kehidupan lainnya. Inilah pengajian "welasan" di Ponpes Assalafiyyah jl Suparno Karangwangkal (masih dilingkungan UNSOED) Purwokerto.

Seusai pengajian -sekitar jam 02.00 an- saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk sowan sekaligus ber bai'at menjadi santri Jamaah Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah langsung dengan KH Syaikh Syarif Nurkholis (Mbah Nur).

Alhamdulillah , semenjak ikut bai'at dan rutin mengamalkan dzikir-dzikir yang telah di ajarkan oleh sang mursyid,hatiku menjadi tenang,tentram dan aku merasakan ada kedamaian di bathinku.



Senin, 12 Januari 2009

Makam Mbah Empang Bogor

Masjid An-Nur Jl.Lolongok Empang Bogor.

Masjid keramat Empang ini didirikan sekitar tahun 1828 masehi. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh para habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia waktu itu.

Di areal komplek masjid keramat ini terdapat rumah peninggalan Habib Abdullah yang sekarang di tempati oleh Kholifah masjid, Habib Abdullah bin Zain Alathas. Didalam rumah ini pula masih ada peninggalan-peninggalan dari Habib Abdullah Bin Mukhsin Al athas.

Dibelakang masjid inilah bersemayam tokoh besar Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas atau yang populer dengan sebutan Mbah Empang atau Buyut Empang Bogor.

Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas dimakamkan, bersama dengan makam putra putrinya yakni ;
Al Habib Mukhsin bin Abdullah Al Athas,
Al Habib Zein bin Abdullah Al Athas,
Al Habib Husen bin Abdullah Al Athas,
Al Habib Abubakar bin Abdullah Al Athas,
Syarifah Nur binti Abdullah Al Athas.

Juga salah satu murid kesayangannya yaitu ; Al Habib Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir,

Dan satu lagi makam ulama besar yang wafat pada tanggal 26 maret 2007 ;Al Walid Habib
Abdurrohman bin Ahmad Assegaf.Jadi dalam satu ruangan terdapat tujuh makam Habaib.


Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Alathas

Habib Abdullah Bin Mukhsin Bin Muhammad Bin Abdullah Bin Muhammad Bin Mukhsin Bin Husain Bin Syaikh Al Qutub, Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas, dilahirkan di desa Kasri daerah Hurah Hadramaut pada hari selasa 20 jumadil awwal 1265 hijriyyah ( ada yang meriwayatkan tahun 1275 H ).

Sejak kecil Habib Abdullah mendapatkan didikan langsung dari orang tuanya. Habib Abdullah kecil belajar Al Qur'an kepada Mu'allim Syaikh Umar Bin Faraj Bin Sabah. Prestasi Habib Abdullah sangat memuaskan. Beliau berhasil menghafalkan Al Qur'an dalam usia 17 tahun.

Setelah puas mereguk berbagai diiplin ilmu di kampung kelahirannya,
Habib Abdullah Bin Mukhsin menunaikan ibadah haji yang pertama pada tahun 1284.

Pada tahun 1283 hijriyyah beliau menunaikan ibadah haji untuk uang ke dua kalinya.
Namun setelah selesai dari menunaikan ibadah haji di Makkah Al Mukarromah, Habib Abdullah bin Mukhsin tidak kembali ke tanah airnya di Hadramaut. Habib Abdullah bin Mukhsin langsung menuju ke Indonesia. Dan pulau Jawa menjadi pilihan habib Abdullah bin Mukhsin. Beliau berguru kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bin Hamzah di Pekojan, Azzawiyah.

Habib Abdullah Bin Mukhsin juga lama berguru kepada Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas Pekalongan. Hubungan Habib Abdullah dengan Habib Ahmad gurunya, terjalin sangat erat. Dari Habib Ahmad Pekalongan, Habib Abdullah banyak mendapat manfaat kerohanian yang sangat mendalam.

Perjalanan Ke Empang Bogor

Dari sumber periwayatan yang lain di ceritakan, bahwa awal pertama kedatangan Habib Abdullah ke Indonesia pada tahun 1800 Masehi adalah atas perintah dari salah satu guru beliau, yakni Al Habibul Imam Abdullah bin Abubakar Alaydrus.

Awalnya habib Abdullah di utus untuk pergi ke Mekkah. Sesampainya di Mekkah, habib Abdullah melakukan sholat sunnah pada malam hari. Dan ketika tertidur Habib Abdullah mimpi di datangi oleh Rosulallah Saw. Entah apa isi mimpi itu, yang jelas pagi harinya Habib Abdullah bergegas untuk meninggalkan tanah suci dan menuju ke Indonesia.

Sebagaimana di ceritakan di atas, Habib Abdullah awal mula ke Indonesia bertemu dengan Habib Ahmad bin Hamzah Alathas Pekojan. Kemudian Berguru pula kepada Habib Ahmad bin Muhammad Al Athas Pekalongan.
Dan Habib Abdullah juga berziarah kepada Habib Husain Alaydrus Luar Batang.

Oleh Habib Husein Luar Batang Habib Abdullah di suruh untuk mengembangkan dakwah Islamiyyah ke Empang Bogor. Beliau datang dengan tidak membawa apa-apa waktu itu.
Bahkan pada zaman itu kawasan Empang belum ada penghuninya. Namun dengan kekaromahan beliau, Allah SWT merubah kawasan Empang yang sepi menjadi kawasan yang padat penduduk,seperti sekarang ini.

Lokasi makam ini bisa dijangkau dengan angkutan kota. Dari terminal Baranang Siang naik angkutan kota nomer 06 atau 05 turun di depan Swalayan BTM.

Makam Keramat Luar Batang


Al Habib Hisain Bin Abubakar Alaydrus di lahirkan di Yaman Selatan,tepatnya di daerah Hadramaut,tiga abad yang silam. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim,yang didibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hanya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional.
Habib Husain kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Setelah Habib Husain memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husain kepada seorang 'ulama tasawuf (ahli Shufi). Disanalah Habib Husain remaja mendapat bimbingan dan pembelajaran thoriqoh.
Diantara murid-murid yang lain di ribath sufi tersebut, Habib Husain sudah kelihatan memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih menonjol di banding teman-temannya.

Setiap ahlit Thoriqoh pasti senantiasa memiliki panggilan untuk melaksanakan hijrah, dalam rangka mensyiarkan agama Islam kebelahan bumi Allah. Demikian pula dengan Habib Husain setelah dewasa.
Beliau tidak kekurangan akal untuk menunaikan perjuangan suci ini. Beliau menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan perniagaan di pasar setiap hari Jum'at.

Setelah dipastikan mendapat tumpangan dari seorang kafilah yang hendak bertolak ke India,maka Habib Husain segera menghampiri ibunya untuk minta izin.
Walaupun dengan berat hati,sang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian puteranya.

Singkatnya, akhirnya Habib Husain sampailah di sebuah kota yang bernama "Surati",atau lebih dikenal dengan sebutan kota Gujarat,yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Disinilah Habib Husain mengawali dakwah mensyiarkan agama Islam.

Kedatangan Habib Husain di kota-kota di Gujarat ini membawa Rahmatan-Lil 'Alamiin. Karena daerah yang tadinya tandus dan gersang, dengan kebesaran Kekuasaan Allah maka berubah menjadi daerah yanh subur.
Agama Islampun tumbuh berkembang di kota Gujarat dan kota-kota sekitarnya.

Hingga kini belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib Husain bermukim di India.
Tidak lama kemudia beliau melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayahAsia tenggara,hingga akhirnya sampai di pualau Jawa. Beliau menetap di kota Batavia,sebutan untuk kota Jakarta tempo dulu.

Disinilah tempat persinggahan terakhir Habib Husain dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau mendirikan sebuah Surau sebagai pusat pendidikan dan pengembangan agama Islam.

Pesatnya pertumbuhan dan minat orang untuk belajar agama Islam ke Habib Husain,mengundang kesinisan dan kekhawatiran dari pemerintahan VOC, yang dipandang akan mengganggu keamanan dan ketertiban. Akhirnya Habib Husain beserta beberapa pengikutnya di tangkap dan di masukkan ke penjara Glodok.

Terali besi dan tebalnya tembok penjara tidak bisa menghalangi perjuangan Habib Husain dalam mensyiarkan agama Islam. Walaupun dalam penjara Habib Husain tetap mengajarkan ayat-ayat Qur'an dan tuntunan Islam. Sampai akhirnya penjajah putus asa melihat kekaromahan Habib Husain. Penjajahpun membebaskan Habib Husain.

Dalam perjuangan Habib Husain membela agama Allah,tenyata Allah berkehendak lain, Waliyullah ini telah meninggal dalam usia yang relatif masih muda,yakni dalam usia tidak lebih dari 40 tahun.
Tepatnya Habib Husain bin Abubakar Alaydrus wafat pada tanggal 17 Romadlon 1169 atau tanggal 27 juni 1756.



Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husain setelah keluar dari penjara. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husain. Namun dengan kebesaran Habib Husain selalu menolak tawaran dari para penjajah itu.
Akan tetapi Gubernur Batavia itu sangat bijak,di hadiahkanlah sebidang tanah di Kampung Baru,sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing yang meninggal harus di makamkan di pemakaman khusus yang ada di Tanah Abang.

Sebagaimana layaknya,jenazah Habiib Husain diusung dengan Kurung Batang (keranda). Ternyata sesampainya dipekuburan di Tanah Abang,jenazah Habib Husain tidak ada dalam Kurung Batang (keranda). Lebih aneh lagi,ternyata jenazah Habib Husain masih ada di tempat tinggal semula.
Dalam bahasa lain jenazah Habib Husain keluar dari Kurung Batang. Para pengantar jenazah mencoba lagi membawa jenazah kepekuburan tadi,namun demikian jenazah Habib Husain tetap saja keluar dan tertinggal di rumahnya.

Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan sepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husain di tempat yang merupakan tempat tinggalnya.

Kemudian orang-orang menyebutnya sebagai "Kampung Baru Luar Batang", dan kini dikenal sebagai Kampung Luar Batang.

Masjid dan makam Shohibul Qutub Al Habib Husain Bin Abu Bakar Alaydrus ini lokasinya ada di Kampung Baru Luar Batang Penjaringan Jakarta Utara.

Lokasi wisata Religius ini bisa dijangkau dengan mudah,yakni dari terminal Mangga Dua naik Kopami 02,bisa turun di pertigaan pasar Muara Baru atau Pasar Ikan.